Sabtu, 21 November 2009

Sumpah Sampah

Kami yang dikutuk sampah
sesekali boleh bersumpah
demi mulia nama lembah
air mata-Mu harus tumpah.

Bangalore, 2009

Minggu, 08 November 2009

Smile, Pakistan!

Bruised body, is it you, o, Pakistan? Locking yourself and having your own fun in a room. What do you pour to defend against the blackening blue? Every time it’s heard you scream or maybe it was just a laugh that was disguised?

Then why the sky was shaking at the end of the eyes? Silent tears or choked laughters pound on the top of television. Don’t you feel, o, Pakistan, your agile body is our body, your sick body is our body. Why do you save your own grief, why did you bear fly groves? Partying in their own foul wounds.

Rise up body, soul rise! Arise, o, a strong Pakistan. Open slightly the window pale lips, let the wind crawls away to share the cries to our bodies.

Make sure, o, Pakistan! Swift tears - or laughter? - today, filled up our prayers. Growing the morning buds on the lips of children of the night. Make sure, o, Pakistan, the night the storm would pass. The children return to school and the parents cheerfully corn. Inviting the caressing rain. Rainbow perched on a branch beside the house.

Smile, Pakistan!

Bangalore, 2009

Rabu, 04 November 2009

Kamirindupusing!

Kamirindupusing!

Kauterangkami
silaukaugelap
kamirancukau
remangkamiragu
kauadakami
kelahikautiada
kamirindupusing!

Bangalore, 2009

Selasa, 18 November 2008

Puisi Bang Dino Umahuk

Sampai Batas Umur Sepiku Memuja Laut
: Andi Tafader

Sampai pada batas umurlah sepiku memuja lautan
Rindu yang mengalir adalah rindu rahasia langit
Rahasia bawah air yang menikam ke jantung puisi
Kepadanyalah segala rahasia sunyi ingin ku selami

Pada sekian persinggahan pernah kutemukan wajah bunga
Juga tajam airmata dari luka yang kian menganga
Bersandarlah aku pada perawan pada perempuan karam
Namun sunyi mata air tak pernah juga bisa kujangka

Maka demi pelabuhan yang selalu menggemparkan telinga
Aku memilih berlayar menuju titik paling sepi yang dibilang mati

Banda Aceh, 18 November 2008


Senin, 06 Oktober 2008

Missed Call

Ketika Tuhan memanggil
Jemariku terus saja menari
Di atas papan kunci handphone
Melayani game yang seru
Tunggu, ya, lagi tanggung

Ketika Tuhan memanggil
Download ini belum selesai
Tanggung ditinggalkan
Biaya bisa mengamuk
Sebentar, masih ada waktu

Ketika Tuhan memanggil
Kekasihku sedang curhat
Tak tega memutuskannya
Hari gene, susah cari pacar
Sabar ya, Tuhan

Ketika Tuhan memanggil
Tak ada kesibukan
Kubiarkan Ia terus memanggil
Agar kutahu sejauh mana
Ia bersabar menungguku

Ketika Tuhan memanggil
Jemariku tak mampu lagi menari
Biaya oksigen mencekik leher
Dan pacar tak lagi mengenali

Dan Tuhan terus saja memanggil
Dengan sabar dengan syahdu
Dari celah yang kian redup
(6 Oktober 2008)

Senin, 22 September 2008

Handphone di Bulan Puasa

Ini hari, kelam berlari. Pagar lapang tanpa kata kunci. Sms berlalu tanpa sangsi. Tak ada kerja yang memberat hati:

Memaki layar yang polos. dan volume yang boros. Merekam desah gelisah kamar mandi. Atau mengintip di sebalik rok mini. Dengan tubuh geletar, keringat yang deras.

Ini hari, perubahan berdentam. Gambar-gambar biru tenggelam di balik surau malam. Hentakan musik cadas lebam oleh tadarrus puisi yang bening. Di kotak surat, tak ada babi atau anjing. Berganti merpati dengan sayap-sayap mengembang. Teduh yang rindang.

Ini hari, komitmen bicara. Kotak draf menagih rencana-rencana. Janji yang belum merupa. Kata-kata yang belum puisi. Dan halaman baru yang belum terukir. Dengan tombol-tombol lincah. Dari hati merah jambu. Yang terlahir kembali. (19 Sept 2008)

Kamis, 18 September 2008

Kabar dari Handphone

Handphone-ku senyam-senyum menerima sebuah sms. Layarnya seketika bersorai. Ia membacanya dengan mata sumringah. Ada surga di Pasuruan. Begitu awal sms itu. Lalu kaki-kaki bertelanjang dada. Yang lama mendamba wangi sepatu. Menyemut dari seluruh penjuru. Seperti yang pernah didengarnya: di surga tak ada luka kaki. Mereka datang ingin memetik doa yang selama ini mereka tanam. Tapi pintu ternyata tak selebar dikira. Dan demi wangi sepatu, mereka lupa pada tanah. Mereka mencium kepala.

Begitulah handphone mengabari aku. Ia melihat aku di antara kerumunan itu. Di antara duapuluhsatu nyawa yang ikhlas tak menyentuh surga. Ia heran bagaimana dan untuk apa aku hadir di sana. Maka aku menjawabnya: Aku berangkat bersama mereka. Mereka semua tahu. Aku ada di dalam diri mereka. Di darah di kulit di tulang di hati mereka. Aku perlu sepatu. Agar bisa leluasa bergerak dari kaki ke kaki. Melaksanakan tugas abadi. Mengarahkan mereka ke jalan yang sesat. Sebagaimana kakek mereka memisahkan aku dengan Tuhan. (18 Sept 2008)